Kamis, 13 Juni 2013

KASUS CEBONGAN_TNI AD Beri Dukungan Moril pada Prajurit


JAKARTA,   Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Moeldoko mengajak seluruh prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD untuk mem­berikan dukungan moril terhadap rekannya, yang terlibat masalah kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan ini, saya mengajak, mari kita berikan dorongan moril dan doa kepada rekan-rekan kita yang se­dang menjalani proses hukum dalam kasus Cebongan," kata Moeldoko usai menerima anugerah Warga Kehormatan Kopassus di Makopassus, Cijantung, Jakarta, Selasa (11/6).

Sebagai prajurit kesatria, dukungan moril diberikan karena prajurit Kopassus yang terlibat telah menunjukkan sikap profesional dalam mengakui dan mempertanggung­jawabkan perbuatannya.

Ia menegaskan, sikap kesatria harus menjadi semangat yang tidak pernah surut dalam mengukir pengabdian Korps Baret Merah. "Saya ingin semua prajurit TNI AD menjadi prajurit yang profesional dan santun," kata Moeldoko.

Dalam kesempatan tersebut, Moeldoko juga menegaskan, pihaknya tidak akan menutup-nutupi proses hukum kasus Cebongan. Semua langkah hukum dilakukan sesuai prosedur dan diselesaikan hingga tuntas.

Kasus cebongan tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua berjalan sesuai prosedur dan ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan," ucapnya.

Moeldoko menerima anugrah Warga Kehormatan Kopas­sus ditandai dengan pemasangan brevet oleh Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen TNI Agus Sutomo.

Moeldoko mengaku patut berterimakasih atas penghar­gaan yang setinggi-tingginya terhadap pemberian brevet ko­mando tersebut. "Penyematan ini semakin memotivasi saya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab pembinaan Kopassus dan TNI AD dengan lebih baik lagi di masa men­datang," katanya.

Brevet, lanjut dia, merupakan lambang kehormatan se­kaligus lambang kebanggaan bagi setiap prajurit. Demikian halnya dengan kualifikasi kemampuan yang terkandung pa­da Brevet Komando, bukanlah kualifikasi kemampuan stan­dar, tetapi kualifikasi khusus yang diperoleh melalui latihan yang keras, menantang dan profesional. (Feber S), Sumber Koran: Suara Karya (13 Juni 2013/Kamis, Hal. 14)