Selasa, 03 September 2013

Ini Suara Mereka yang Menjaga Puncak Jaya Papua



Senin, 02/09/2013 19:12 WIB


Jakarta - Mendengar nama Puncak Jaya, selalu terbayang di benak kita beberapa aksi penembakan brutal kelompok bersenjata versus aparat, baik TNI-Polri. Kondisi alam serta akses untuk transportasi menjadi faktor penentu keamanan di wilayah tersebut.

Kapolres Puncak Jaya, AKBP Marselis mengatakan, menjaga wilayah hukum Polres Puncak Jaya yang membawahi lima Polsek dan 16 distrik memiliki kekhususan tersendiri.

Setiap anggota dituntut mampu menguasai kondisi medan dimana mereka bertugas. Terlebih memahami gerak kelompok-kelompok bersenjata yang kerap menyerang aparat.

"Mereka mencari senjata dari kita (aparat). Karena, senjata itu bisa menaikan status mereka di kelompoknya, bisa menjadi pemimpin (kelompok bersenjata)," kata Marselis, Senin (2/9/2013).

Sebab itulah yang para kelompok bersenjata tersebut menyerang aparat, baik TNI atau Polri. "Itu yang mereka incar," katanya.

Oleh sebab itu, setiap personel bersenjata yang berpatroli diimbau tidak keluar sendiri. Selain menjaga satu sama lain, langkah ini pun untuk menghindari perampasan senjata dari kelompok yang kerap berpindah-pindah titik lokasinya.

Polres ini memiliki jumlah personel 230 orang yang ada di berbagai Polsek di wilayah Puncak Jaya. Namun, Marselis tidak menjawab tegas berapa jumlah personel yang seharusnya dapat mendukung pemeliharaan keamanan di Puncak Jaya.

"Jumlah anggota kurang sekali. Tidak pernah dapat angka yang pasti, kita sudah minta yang ideal," katanya tidak merinci jumlah.

Selain itu, sulitnya akses transportasi pun turut menjadi faktor penunjang keamanan di sana. Transportasi untuk mencapai distrik satu ke distrik lainnya harus ditempuh melalui jalan darat, yaitu jalur pegunungan yang cukup memakan waktu.

Sementara untuk pengiriman logistik menggunakan pesawat berbadan kecil yang hanya mampu mengangkut sembilan penumpang termasuk kru pesawat.

"Di Polres belum ada pesawat atau helikopter untuk menjangkau lokasi, itu yang kita tunggu-tunggu," harap Marselis.

Berbeda dengan kondisi markas kepolisian lainnya. Di wilayah tersebut markas tidak berdiri dengan semen dan bata. Hal itu dikarenakan mahalnya biaya angkut material pembangunan dan tingginya harga material.

"Diatas sana markas kita seperti Polres dan Polsek sebagian besar dari kayu. Karena mahal sekali beli semen ataupun beton di sana," ujarnya.

Cuaca ekstrim juga kerap merundung kawasan ini. Bila cuaca tidak memungkinkan, personel yang terjebak di tengah hutan atau tengah baku tembak dengan kelompok bersenjata, mau tidak mau menunggu cuaca kembali normal.

"Kalau personel bawa mayat rekannya yang meninggal, sementara cuaca sedang ekstrim, dia harus menunggu cuaca itu kembali normal," ujarnya.

Menanggapi itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan bila Polda Papua memiliki sarana tersebut. Selain juga dimiliki oleh jajaran TNI untuk digunakan bersama demi kepentingan pengamanan wilayah.

"Artinya tidak ada halangan untuk itu," katanya. Sumber : www.detik.com