Jumat, 04 Oktober 2013

Kejuangan Generasi Baru TNI



Besok, TNI meraya­kan ulang tahunnya ke-68.Negara masih menghadapi kepriha­tinan terkait TNI, seperti penyer­buan LP Cebongan, Yogyakarta, atau konflik dengan polisi yang tak berkesu­dahan.Ada juga vonis seorang purna­wirawan perwira tinggi karena korupsi saat menjadi panglima kodam Jatim.

Tak pelak, dalam situasi seperti itu, TNI masih saja menjadi pemasok uta­ma pemimpin nasional.Banyak calon presiden berlatar belakang militer.Se­belum muncul figur Jokowi, figur mili­ter unggul dalam beberapa survei.

Sebagai sebuah institusi, TNI me­miliki kapasitas dan sumber daya yang sangat besar, termasuk meningkatkan harkat kemanusiaan, membangun soli­daritas sosial, dan keteladanan.

Di tengah arus zaman seperti seka­rang, yang sangat mengagungkan harta dan kekuasaan, ada pertanyaan tentang visi atau nilai kejuangan prajurit TNI, khususnya perwira generasi baru.Dari waktu ke waktu, selalu ada ke­khawatiran tentang gejala penurunan semangat kejuangan prajurit.Dina­mika lingkungan turut andil dalam pasang-surut semangat kejuangan.

Setiap zaman memiliki penanda dan semangatnya sendiri-sendiri.Generasi sekarang mungkin sulit diajak berimajinasi romantika perjuangan dulu (1945-1949).Perjalanan waktu ikut andil membentuk persepsi generasi se­karang terhadap profesi kemiliteran.

Bagi generasi sekarang, menjadi ten­tara dengan segala atribut dan kebang­gaannya hanyalah salah satu pilihan di antara profesi bergengsi lainnya.Se­bab, ada pandangan, mengabdi pada bangsa tidak harus melalui jalur militer.Namun, pandangan itu tidak mengu­rangi kebanggaan generasi muda yang kebetulan memilih menjadi tentara se­bagai panggilan hidup.Pertanyaannya, adakah sesuatu yang istimewa dari generasi baru TNI sehingga rakyat ma­sih bisa berharap?Layakkah mereka diandalkan untuk kemajuan bangsa?

Generasi baru, terutama perwira lu­lusan Akademi TNI tahun 1990-an (1990, 1991, dan seterusnya), dibanding gene­rasi sebelumnya, bisa disebut dengan Orde Baru.Benar mereka lulus di saat Orba, namun saat Soeharto tumbang (1998), jabatan tertinggi yang dicapai generasi ini baru setingkat komandan kompi.Dengan demikian, akses mereka pada sumber kekuasaan juga terbatas.Mereka relatif belum terlalu terpenga­ruh ideologi kekuasaan tanpa batas, yang biasa dianut elite militer saat itu.

Belakangan, sebagian besar gene­rasi tersebut masih menduduki pos komandan batalyon.Lainnya sedang bersiap-siap ditempatkan sebagai ko­mandan kodim.Jelas generasi ini se­makin matang. Mereka bisa memetik pengalaman secara dingin dan mem­perbandingkan dua zaman: Orde Baru dan Era Reformasi. Mereka juga lebihsiap bersinergi atau berkompe­tisi dengan tokoh-tokoh muda potensial dari kalangan sipil.Generasi ini sadar sepenuh­nya bahwa zaman telah beru­bah.Tiada lagi privilese bagi ka­langan militer seperti masa lalu.

Setelah berakhirnya perang Timtim dan Aceh dan sebentar lagi Papua, palagan "pertempuran" kini telah beralih ke wilayah perbatasan.Dalam persepsi para perwira muda, operasi pengamanan wi­layah perbatasan merupakan aktualisasi semangat nasionalisme mereka.Kawa­san perbatasan bukan sekadar patok atau penanda geografis lainnya, namun lebih dari itu, merupakan manifestasi kedaulatan dan martabat bangsa.

Meski pengamanan perbatasan ma­suk kategori Operasi Militer Selain Pe­rang, dalam situasi genting, jaraknya hanya "sejengkal" dengan perang yang sesungguhnya.

Amanat Soedirman
Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah menyampaikan pidato radio bagi taruna Akademi Militer Yogyakarta di tengah operasi gerilya. Bunyinya, "Ingatlah, prajurit Indonesia bukan tentara bayaran. Mereka bukan prajurit yang menjual tenaganya untuk mem­peroleh segenggam beras.Mereka juga bukan prajurit yang mudah dipe­ngaruhi kelicikan maupun keinginan akan benda-benda materi."

Amanat Panglima Soedirman masih terasa aktual dalam konteks sekarang.TNI memiliki kapasitas sebagai kekuatan moral untuk melawan budaya konsumerisme, ambisi memburu ja­batan, dan mencegah kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan.Di tengah re­alitas suram itu, kini diperlukan tero­bosan signifikan agar bangsa kembalimenemukan martabat.

Dari praktik kecil sehari-hari, TNI bisa berkontribusi cara berperilaku di tengah "zaman edan" sekarang. Nilai-nilai kesetiakawanan atau kesederha­naan kesatuan bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.Perwira gene­rasi baru harus memiliki komitmen kuat atas tradisi hidup sederhana.Mereka juga harus siap menghadapi realitas seandainya kurang dihormati lingkungan karena masih berpersepsi bahwa nilai kehormatan seseorang diukur seberapa banyak harta atau jabatan yang dimiliki.

Kesediaan generasi baru TNI hidup sederhana dan hemat menjadi semacam penemuan kembali jati diri. Ada banyak doktrin dalam TNI, antara lain Sapta Marga, Sumpah Prajurit, 8 Wajib TNI, dan 11 Asas Kepemimpinan. Dalam 11 Asas Kepemimpinan, ada dua poin yang secara eksplisit memberi pedoman ideal cara seorang perwira bersikap. Mereka harus hidup sederhana dan hemat.Jadi, hidup sederhana dan hemat memiliki akar tradisi yang panjang.

Banyak tokoh TNI hidup sederhana meski mereka berpangkat tinggi, se­perti  Jenderal  AHNasution, Letjen Basuki Rachmat, Jen­deral M Yusuf, Mayjen Mung Parhad­imuljo (mantan Komandan Kopassus dan penyelamat Panji Siliwangi), dan Brigjen Purn Ibrahim Saleh.

Brigjen Ibrahim Saleh (almarhum) yang sempat dikenal karena aksi inter­upsinya pada SU MPR 1988 terbilang sangat eksentrik dalam menjalani pola hidup sederhananya. Kalau bepergian, dia senantiasa naik bus kota sambil membawa tas kain lusuh. Generasi baru TNI hendaklah menyimak cara bersikap seperti dijalani jenderal-jenderal itu. (Aris Santoso), Sumber: Koran Jakarta (04 Oktober 2013/Jumat, Hal. 04)