Kamis, 03 Oktober 2013

1.400 Hektare Lahan Sudah Dibuka



Rabu, 2 Oktober 2013


SENDAWAR. Untuk mewujudkan ketahanan pangan yang dilaksanakan melalui kerja sama Kementerian Pertanian (Kementan) dengan TNI, Danrem 091/Aji Surya Natakusuma (ASN) Brigjen TNI Gadang Pambudi melakukan peninjauan langsung ke Rapak Oros, Kecamatan Linggang Bigung, Jumat (27/9) lalu.

Pada peninjauan tersebut, Danrem didampingi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kaltim Ibrahim MP, Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan (Disbuntanakan) Kubar Arifin Nanang, dan pakar pertanian.

“Pada 2012 lalu, Kementerian Pertanian telah menggandeng TNI untuk mewujudkan ketahanan pangan. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan cadangan pangan dapat tersedia, petani dan masyarakat semakin sejahtera,” kata Danrem Brigjen Gadang Pambudi.

Sesuai persyaratan dari Kementan, untuk mewujudkan rencana tersebut harus ada lahan, irigasi, dan masyarakat yang bekerja serta saling mendukung dengan TNI.

“Sungguh memprihatinkan, negara kita memiliki banyak lahan, tapi beras masih banyak impor dari luar negeri. Dengan kunjungan ke Kutai Barat kali ini semoga dapat mengawali kegiatan kerja sama tersebut,” lanjut Danrem.

Sedangkan Kepala Disbuntanakan Kubar Arifin Nanang mengatakan, program Food Estate dan Rice Estate telah direncanakan dan dilaksanakan sejak 2011 di lokasi seluas 2.000 hektare.

“Salah satunya di Rapak Oros. Sekarang masih dalam pembukaan lahan, karena awalnya daerah ini masih berupa hutan. Sampai sekarang sudah terbuka seluas 1.400 hektare, dan masih tersisa 600 hektare lagi,” jelasnya.

Selain itu, panen pertama di Rapak Oros sudah dilakukan pada Desember 2012 lalu, dan dilanjutkan panen raya bersama Bupati Kubar Ismail Thomas pada Februari 2013 lalu.

“Bupati berharap daerah ini dapat menjadi percontohan. Lahan tersebut juga bisa ditanami kedelai dan beras merah yang nilai jualnya cukup baik,” ujarnya.

Selanjutnya Arifin Nanang berharap petani dan pemilik lahan dapat bekerja sama dengan pihak lain yang ikut bekerja sebagai tenaga buruh tani.

“Lahan yang ada ini dimiliki oleh masyarakat, sehingga perlu bekerja sama dengan pihak ketiga agar dapat dimanfaatkan secara maksimal,” tambahnya. (hms11/san/k8/kpnn/lee)