Selasa, 08 Oktober 2013

Pasukan Siber TNI untuk Hadapi Perang Cyber

Senin, 07 Oktober 2013 | 14:37 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: TNI tak hanya dituntut profesional dan mahir dalam memiliki dan menggunakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tetapi juga harus canggih dan tidak gaptek (gagap teknologi) menghadapi ancaman di dunia maya (cyber space).

Untuk itu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro segera membentuk satuan khusus tentara siber (cyber army) untuk menangkal serangan di dunia siber yang dapat mengganggu kedaulatan negara dan pertahanan negara.
Pembentukan cyber army merupakan bagian dari pembangunan Pusat Pertahanan Siber (Cyber Defence) yang meliputi pertahanan sistem komunikasi dan informasi Kementerian Pertahanan. Cyber army terdiri atas kalangan militer yakni TNI-AD, TNI-AU, dan TNI-AL, hingga kalangan sipil.

"Serangan cyber yang dapat mengganggu kedaulatan bangsa saat ini cukup terbuka lebar. Cyber Army dibentuk untuk menangkal serangan tersebut," ucap Purnomo, baru-baru ini.

Kementerian Komunikasi dan Informatika akan membantu tata kelola, infrastruktur, peralatan, dan sumber daya manusianya.

Perang di dunia maya (cyber warfare) menjadi ancaman di berbagai belahan dunia ini di samping perang konvensional yang saling mengungguli dalam penggunaan alutsista. Cyber warfare berkembang dari cyber crime yang memiliki arti bentuk kejahatan yang ditimbulkan karena pemanfaatan teknologi internet jaringan komputer seperti menyebar virus yang merusak akses informasi, membajak atau mencuri informasi, mengubah informasi secara ilegal, hingga memata-matai akses informasi.

Cyber army dibentuk untuk menangkis segala serangan di dunia maya yang setiap saat bisa mengganggu pertahanan kedaulatan RI. Selain menangkis dan bertahan, cyber army juga memiliki kemampuan untuk menyerang.

Menurut Purnomo, cyber army juga memiliki tugas khusus menelusuri siapa saja yang mencoba mengoyak siber di Tanah Air dan menguak motif penyerangan tersebut. "Potensi gangguan saat ini sudah ada tetapi kadang-kadang tidak kita rasakan," kata Purnomo.

Pengamat militer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramodhawardani sangat mendukung rencana Menteri Pertahanan itu. "Itu sangat penting. Jangan dilupakan Indonesia juga memiliki peretas-peretas tangguh," ungkapnya.

Menurut Jaleswari, dari beberapa kali diskusi bersama petinggi TNI dan Kemhan, Indonesia memiliki sumber daya peretas yang tangguh bahkan sangat diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. Peretas-peretas ini memiliki strategi efektif untuk melumpuhkan pertahanan lawan dan mampu membaca taktik secara tepat. (Antara & Editor: Henri Salomo Siagian)