Rabu, 28 Agustus 2013

Pelaku Besar Dibiarkan_Pertamina Gandeng TNI untuk Tekan Pencurian



BAYUNG LENCIR,- Pencurian minyak mentah Pertamina di jalur pipa Tempino-Plaju yang terpusat di Kecamatan Bayung Lencir dan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kini berhenti. Namun, kondisi ini bakal hanya sesaat sebab belum satu pun pelaku besar ditangkap.

Sejauh ini hanya pelaku la­pangan yang ditangkap dalam operasi yang berlangsung dua bu­lan itu. Sejumlah lapak penyu­lingan minyak mentah di Ke­camatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa (27/8), telah di­bongkar. Jumlah lapak penyu­lingan itu sekitar 600 unit yang tersebar di lima desa.

Kepala Desa Simpang Bayat Kamari mengatakan, pembong­karan dilakukan oleh pemilik la­pak sendiri sekitar satu pekan terakhir. Pada 15 Agustus lalu, aparat gabungan Polda Sumatera Selatan dan TNI menggerebek lokasi. "Sejumlah warga minta untuk membongkar sendiri lapak mereka. Sejak itu tidak ada ak­tivitas lagi," katanya.

Dalam penggerebekan pada 15 Agustus, polisi menahan sem­bilan orang. Mereka berada da­lam lapak saat penggerebekan itu. Salah satu yang ditangkap adalah pegawai perusahaan sub­kontraktor yang disewa PT El-nusa yang juga anak perusahaan PT Pertamina EP. Selain itu, em­pat sopir truk pengangkut mi­nyak mentah yang diduga curian juga ditangkap anggota Kodam II/Sumatera Selatan.

Manajer Humas Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan, pencurian tersebut dikhawatir­kan hanya berhenti sementara. Sebab, pelaku utama belum ter­sentuh hukum.

"Orang-orang yang tertangkap hanya pelaku lapangan. Pelaku utama selalu bisa menyewa orang lapangan lagi. Sebelum pelaku utama ditangkap, pencurian mi­nyak sulit berhenti," ujarnya.

Selain sebagai penadah, pelaku utama itu juga bertindak sebagai penjual hingga ke Jakarta, Batam, dan Pekanbaru. Minyak mentah dari pipa Tempino-Plaju diduga disuling untuk oplosan dan di­kirim ke luar negeri.

Pencurian minyak mentah di jalur ini berhenti sejak aliran pipa Tempino-Plaju dihentikan Per­tamina EP akhir Juli lalu. Peng­hentian disebabkan pencurian minyak dengan melubangi pipa cukup tinggi.

Pada peristiwa ledakan pipa di Simpang Bayat awal Oktober 2012, pencurian juga berhenti selama satu bulan karena penja­gaan ketat aparat. Namun, se­telah itu tingkat pencurian terus meningkat.

Agus mengatakan, sesuai in­formasi dari Tim Keamanan Per­tamina EP, pencurian dan per­dagangan minyak mentah ter­sebut merupakan kejahatan ja­ringan. Setidaknya terdapat satu penadah besar di Jambi.

"Pencurian dan perdagangan minyak mentah ini seperti mafia, melibatkan banyak orang di ba­nyak institusi, termasuk indikasi didukung oknum aparat keaman­an setempat," ujar Agus.

Untuk memperkuat peng­amanan di Bayung Lencir, PT Pertamina menandatangani nota kesepahaman penjagaan terito­rial dengan TNI. Penandata­nganan menurut rencana dila­kukan Direktur Utama PT Per­tamina Persero Karen Agustiawan dan Kepala Staf TNI Ang­katan Darat Jenderal Moeldoko di Bayung Lencir, Rabu ini. (IRE), Sumber Koran: Kompas (28 Agustus 2013/Rabu, Hal. 22)